Konper PII mesir ke-8 - Corat-Coret

Hot

Konper PII mesir ke-8

Indonesia dengan segala sumber daya alam yang dimiliki, menjadikannya negara yang cukup potensial dalam membangun segala sarana dan prasarana untuk kesejahtraan rakyatnya.  Laut yang membentang luas, hutan yang hijau mewarnai peta Indonesia, pulau-pulau begitu banyak memenuhi negara khatulistiwa ini, rasanya cukup untuk memanjakan seluruh penghuni negri, akan tetapi pada aplikasinya tetap saja semua ini terasa berat, semua sumber daya alam yang ada tidak berjalan selaras dengan potensi sumber daya manusia yang mumpuni sehingga yang terjadi adalah kesenjangan di antara masyarakat, banyaknya perpecahan dan gesekan pun tak bisa di hindarkan, kekacauan melanda  seluruh pelosok negri, kemiskinan semakin merajalela, rakyat jelata semakin tidak terbendung jumlahnya, kriminal pun menjadi hal yang biasa terjadi di negri tempat kita dilahirkan ini.
Bosan rasanya dengan media yang ada, semua berita yang dipaparkan tidak jauh dengan berita kekerasan, asusila, pembunuhan, korupsi dan lain sebagainya, sudah tidak adakah hal positif yang bisa dibanggakan? Atau ini hanyalah permainan media? Tapi pada faktanya memang semua yang diberitakan itu banyak terjadi di negri kita.
Terakhir ini yang terjadi adalah kekerasan dan tindakan anarkis berupa respon terhadap isu pemerintah yang akan menaikan harga BBM. Mahasiswa dengan fungsinya sebagai pengontrol kebijakan pemerintah melakukan pergerakan dengan turun ke setiap sudut lapangan  dan area pemerintahan guna menolak harga BBM dinaikan. Spanduk dibentangkan, suara-suara orasi terdengar keras melalui toa yang telah disediakan, begitu semangat, lantang seakan pejuang kemerdekaan. Pemerintah yang memprakarsai dan mempunyai ide dalam hal ini akhirnya menunda kenaikan BBM melalui keputusan sidang paripurna yang dihadiri komponen pejabat negri. Tapi yang disayangkan, aksi damai telah dilakukan dan tidak sedikit tindakan anarkis yang terjadi, bahkan ada gedung pemerintah daerah yang dihancurkan karena kekesalan dan emosi yang tak terbendungkan. Hal ini tidaklah memberikan sebuah kemaslahatan melainkan melahirkan sebuah masalah diatas masalah. Proposal akan keluar guna perbaikan gedung pemerintahan dan dana pun akan turun untuk rehabilitasi. Satu bentuk perbuatan yang Allah benci pun dilakukan, pemubadziran. Padahal semua itu bisa dialihkan kepada hal yang lebih positif dan maslahat. Sebuah pergerakan yang positif pun menjadi negatif pada realisasinya.
Masih banyak problematika yang terjadi di negara kita dan harus segera diselesaikan, tawuran antar pelajar, masyakarak yang tak mampu mengenyam bangku sekolah, prostitusi di kalangan pelajar, asusila, pejabat yang korup dan lain sebagainya. Masalah ini akan terus terjadi berulang-ulang jikalau tatanan masyrakat tidak diperbaiki, entah itu tatatan pemerintah sebagai pejabat negara yang menjalani roda kepemimpinan, sampai kepada tatanan rakyat biasa yang menjalani segala kebijakan yang ditetapkan. Semua ini harus berjalan seimbang dalam meraih cita-cita yang diharapkan seluruh komponen bangsa.
Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjaga keutuhan bangsa, sebuah bangsa yang harmonis dan sejahtera. Dimana pelajar dan mahasiswa memiliki peranan penting dalam membangun sebuah budaya positif di masa yang akan datang, karena di pundak mereka lah seluruh harapan dan cita-cita masyarakat dan bangsa. Menggali potensi diri dan meningkatkan prestasi menjadi sebuah keharusan tersendiri bagi mereka para generasi muda.
PII  sebagai organisasi kader, yang berbasis pelajar yang niscaya melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan, tidak bisa membiarkan realitas yang terjadi ditengah-tengah masyarakat pelajar kekinian, yang telah kehilangan identitas pelajar itu sendiri. PII sebagai salah satu mata rantai pemersatu umat dan PII sebagai komponen civil society yang bergerak dalam proses perubahan-perubahan sosial di tengah masyarkat, memiliki idealitas dalam membangun keutuhan bangsa khususnya masyarakat pelajar.
Konferensi Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir diharapkan menjadi sebuah momentum penting untuk melahirkan kembali ruhiyah kebangsaan dan semangat nasionalis dimana PII memiliki cita-cita mempersatukan umat yang menjadi salah satu catur bakti PII. Konferensi kali ini mengangkat tema “Akselerasi pergerakan Pelajar Islam Indonesia( PII) dalam membangun bangsa”  bermaksud untuk mengingatkan kembali bahwa pelajar dan mahasiswa sebagai agent of change haruslah menjaga idealitas dan identitas tersebut.  Semoga konferensi ini sebuah langkah awal untuk menuju perubahan-perubahan yang diharapkan di tengah masyarakat, melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat membangun bangsa di masa yang akan datang. ( kairo, 2 April 2012 M)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar